Masyarakat Suku Baduy
Daerah Suku Baduy
sendiri terletak di Kabupaten Lebak, lebih tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan
Leuwidamar, Banten. Masyarakat suku Baduy hidup dalam keseimbangan yang
harmonis antara tradisi, alam, serta spiritualitas. Budaya suku Baduy dipenuhi
dengan nilai-nilai yang kental, dijaga dengan teguh oleh masyarakat yang hidup
terpencil di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau. Masyarakat ini terbagi
menjadi dua kelompok utama, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam,
kelompok yang lebih terpencil, hidup dengan pola kehidupan yang sangat
tradisional dan memegang teguh adat istiadat mereka. Mereka masih menjalankan
sistem mata pencaharian berbasis pertanian.
Masyarakat Baduy
memiliki ikatan erat dengan pertanian padi, yang melambangkan Nyi Pohaci
Sanghyang Asri, dan tata cara penanaman mengikuti ketentuan-ketentuan
tradisional (karuhun) yang diterapkan oleh nenek moyang mereka. Padi ditanam di
lahan kering, baik di huma di luar desa maupun di dalamnya, kecuali di hutan
larangan seperti hutan tua di Baduy Dalam. Proses penanaman padi dilakukan
sekali musim tanam setiap tahun, dan ini telah menjadi mata pencaharian utama
mereka selama bertahun-tahun, mungkin sejak pengenalan padi di Jawa Barat.
Menariknya, padi yang mereka tanam tidak boleh dijual, sebuah ketentuan yang
berlaku untuk seluruh masyarakat Baduy. Namun, hasil-hasil hutan, buah-buahan,
dan tanaman ladang lainnya dapat dijual sebagai sumber uang untuk membeli
barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti benang katun, ikan asin, garam,
rokok, dan tembakau. Seiring perkembangan zaman, jenis mata pencaharian yang
relatif baru, yakni dalam periode sekitar 10 tahun terakhir, melibatkan
kegiatan perdagangan pakaian, rokok, serta produk dari hasil hutan dan huma,
terutama dijalankan oleh masyarakat Baduy Luar. Selain terlibat dalam kegiatan
berdagang, orang-orang Baduy Luar juga terlibat dalam pengolahan air nira
menjadi gula kawung, bekerja sebagai buruh tani di luar desa Kanekes, serta
melakukan kegiatan pertanian di luar desa dan menangkap ikan.
Sosialitas Baduy didasarkan pada gotong royong dan saling ketergantungan, menciptakan komunitas yang erat dan harmonis. Budaya Baduy juga mencerminkan dalam bentuk pakaian dan gaya hidup mereka yang sederhana. Pakaian Baduy terbuat dari bahan alami, seperti kain katun, dan memiliki warna-warna yang khas. Masyarakat Baduy Luar, meskipun lebih terbuka terhadap pengaruh luar, tetap mempertahankan elemen-elemen khas seperti pakaian tradisional dan pola hidup yang sederhana. Mereka menjaga keaslian budaya mereka sebagai identitas yang membedakan dari masyarakat di sekitarnya.
Spiritualitas juga menjadi pondasi kuat dalam kehidupan masyarakat Baduy. Mereka mengamalkan kepercayaan tradisional yang dikenal sebagai Sunda Wiwitan, yang melibatkan pemujaan terhadap alam dan roh nenek moyang. Upacara-upacara keagamaan dan ritual-ritual tertentu dijalankan secara khusyuk, menghubungkan mereka secara mendalam dengan alam sekitar dan warisan leluhur mereka. Dengan kekhasannya yang unik, masyarakat Baduy menjadi penjaga warisan budaya yang langka dan penting untuk dilestarikan. Hidup dalam kesederhanaan dan keharmonisan dengan alam, mereka memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk menghargai keindahan kehidupan yang sederhana dan bersatu dengan lingkungan sekitar.
Referensi: https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrgNwKX3C5lszIA4XNXNyoA;_ylu=Y29sbwNncTEEcG9zAzEEdnRpZANMT0NVSTEwMkJfMQRzZWMDc3I-/RV=2/RE=1697598743/RO=10/RU=http%3a%2f%2ffile.upi.edu%2fDirektori%2fFPIPS%2fM_K_D_U%2f196801141992032-WILODATI%2fjurnal_SISTEM_SOSBUD_BADUY.pdf/RK=2/RS=T1j9rxG5GK6mtAvCKeah1JkEyZ4-




0 Komentar